matahari beranjak terus naik,dan kemudian turun kembali menuju ufuk barat.
berjuta umat,menanti suatu kepastian hari itu, ya.....kapankah 1 syawal akan tiba....
dan mereka para intelektual, bekerja keras dg pikiran mereka. krn bukan semata untuk mereka saja tapi untuk umat manusia di negeri ini.
sidang tlh mempertemukan mereka yg memiliki pendapat,dan tlh bersepakat. maka hari itu datanglah juga.
sore menjelang,menghiasi tanah kelahiranku.tentulah hari itu tlh pulang kerumah.tapi,entah apa yg ada dlm pikiranku,kehampaan.....
jam 4sore,beduk mulai bertalu2,tradisi ditempatku h-1.
kaum hawa,ibu2 khususnya bersibuk ria mempersiapkan hidangan untuk pagi esok.
ramai sudah,desa mempersiapan segalanya.ramai pula,areal pekuburan,mereka yg akan melakukan ziarah.dan mungkin termasuk aku.
bunga tlh dibeli,tinggal berangkat,dan ditaburkan.
matahari yg tak begitu terik,menghangatkan sore itu.beduk kiran bertalu.....
entah dari mana datangnya,kabar datang....
seorang bocah kecil,berjalan menuju halaman rumah,dan memberitahukan sesuatu.....
rasa hatiku hampir tak percaya,akan apa yg aku dengar.....
ah.....,anak kecil,apa bisa dipercaya penuh,pikirku dg kegundahan.....
namun,disatu sisi hatiku,entah mengapa aku mempercayai apa yg diucapkannya.....
tak begitu lama,pengeras suara dimasjidku berbunyi. dan ternyata apa yg dikatakan anak kecil itu benar adanya....
seketika aku beristighfar......
msh tak percaya,akupun memastikan.dan memang benar adanya.
aku melangkah cepat,menuju pinggiran kali serayu.siapapun yg aku cari,dia harus pulang.
dg sedikit tergugu,aku berseru pada mereka....
dan akhirnya,rumahpun kosong.hanya aku dan keponakanku yg msh kecil.....
rasaku msh tak karuan,mempercayai kabar itu.....,paklikku meninggal,disaat kaum akan mengumandangkan takbir kemenangan idul fitri...
ya,dg seketika beduk berhenti dipukul,hening sudah desaku.hanya dengungan2 penduduk yg entah mengatakan apa.
hemmm,tentu saja mereka begitu iba pada dia,tak memiliki keturunan,istrinya msh dikota....
gegap gempita kemenangan itu,berubah kesedihan dlm hatiku,kesuraman,dan kekecewaan...
ya.....,aku begitu kecewa pada diri sendiri,ya Alloh.....,aku blm sempat melihat beliau,dan ternyata Kau tlh mengutus Malaikat maut untuk mengambil nyawanya......
air mataku maulai mengalir pasti,terisak sendiri dlm rumah.sementara anak kecil disampingku hanya terdiam,memandangku seakan terheran2.aku mengusap pelan kepalanya.dan diapun hanya diam...,msh memandang aku yg bercucuran air mata.
hari mulai gelap,rumah msh tetap terisi aku dan keponakanku.
anak kecil inipun terbengkalai,masakan yg akan selesaipun mendek.....
sungguh,ada rasa sesal yg mungkin sampai sekarang msh ada.....
dan tak habis pikir,kenapa rasa egoisku begitu besar disaat2 seperti inipun. bahkan disaat paklikku sdh meninggalpun,aku begitu bodohnya,tak mau mengunjungi meski hanya jasadnya saja....
ya Tuhanku,egoku mengalahkan segalanya.....
selama beliau sakit akhir2 itu,aku tak pernah sekalipun menjenguknya,hanya karena kebencian secuil itu (pada sipemilik rumah). lalu keponakan macam apa aku ini, bahkan ketika beliau tlh hy jasadnyapun,aku tak ada disana....
malam itu jg,beliau dimakamkan. gotong royong, mengurus jenazah beliau.
sebagian mengurus pemakaman, sebagian lagi mengurus takbir masjid.
pemakamanpun selesai malam itu jg.
malam terasa kian sunyi, meski dari berbagai penjuru mengumandangkan takbir Illahi....
hembus angin, terasa melayukan rasa bahagia merayakan kemenangan esok....
langkah waktupun, menjadi begitu terasa....
jangkrik malam tak terdengar lagi mengalunkan nada2 indah....
malam 1 syawal 1432 Hijriyah, seakan merangkaikan lagu sendu....
disaat semesta alam merayakan kemenangan Idul Fitri, aku kehilangan seorang yg dekat dg keluargaku. disaat takbir bergema, kebahagiaan ini rapuh hingga menjadi duka yg mendalam....
pagi 1 Syawal 1432 Hijriyah, air mata tak terbendung lagi disaat usai Sholat Ied...
rasa hangat sinar mataharipun terasa dingin.....
Simfoni lirih Idul Fitri 1432 Hijriyah, yg penuh duka dan nestapa, terasa begitu dalam masuk dlm sanubariku....
Ya Alloh, Kau tlh mengambil kembali beliau, tanpa sempat untuk menjumpai pagi 1 Syawal.
dan itulah kehidupan, tak ada yg tau kapan ajal menjelang.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar